Ilustrasi
Curah Hujan dijadikan alasan, 2 thn Program Penebangan Perhutani di Lebak tak kunjung selesai.
Lebak Banten, TARGETRILIS.COM — Di balik curah hujan yang nyaris tak putus sepanjang 2025, ratusan hektare hutan produksi di Kabupaten Lebak menyisakan pekerjaan yang tak kunjung tuntas. Program penebangan kayu Perhutani yang dimulai sejak 2024 kembali molor hingga akhir 2025, memunculkan tanda tanya besar tentang perencanaan dan kesiapan kebijakan pengelolaan hutan di tengah iklim yang semakin tak menentu.
Total lahan penebangan mencapai 7.433,12 hektare, tersebar di RPH Cilele (2.395,72 ha), RPH Cimarga (2.125,27 ha), dan RPH Muncang (2.912,13 ha). Komoditas mahoni dan akasia mangium yang ditargetkan rampung ditebang hingga penghujung 2025 nyatanya belum sepenuhnya terealisasi.
Musim hujan disebut sebagai alasan utama penghentian sementara kegiatan. Namun, cuaca ekstrem bukanlah fenomena baru bagi wilayah Lebak. Intensitas hujan tinggi yang berulang dari tahun ke tahun justru mengundang sorotan lebih tajam: sejauh mana perencanaan kerja Perhutani benar-benar mengantisipasi faktor iklim dalam jadwal operasionalnya?
Kaur Perhutani, Atang Selamet, menyampaikan bahwa kegiatan penebangan ditutup sementara di akhir 2025 dan direncanakan berlanjut pada 2026. Sementara itu, Asper Rangkasbitung, Titan, mengakui curah hujan sepanjang 2025 menyulitkan akses menuju petak-petak hutan, sehingga menghambat aktivitas penebangan maupun penanaman.
Penundaan ini bukan sekadar persoalan waktu. Ketika penebangan tertahan, proses penanaman ulang ikut terhambat, membuka risiko terganggunya siklus produksi hutan sekaligus tata kelola lingkungan. Di titik inilah publik berhak bertanya: apakah kebijakan pengelolaan hutan telah cukup adaptif terhadap perubahan iklim, atau masih terjebak pada pola kerja lama yang mudah lumpuh ketika cuaca tak bersahabat?
Tahun 2026 kini dijadikan harapan baru. Namun tanpa evaluasi kebijakan dan perencanaan yang lebih matang, hujan berpotensi kembali menjadi alasan klasik—bukan solusi—atas keterlambatan yang terus berulang.
Penulis: Edo s


0 Komentar