Lebak, TARGET RILIS.COM — Bertahun-tahun menunggu tanpa kepastian, harapan warga akhirnya tak lagi digantungkan pada janji. Jalan rusak yang menghubungkan Desa Pagelaran dan Desa Sukaraja, Kecamatan Malingping, yang selama ini menjadi saksi derita masyarakat, kini mulai berubah—bukan karena proyek besar, melainkan karena tekad dan kepedulian bersama.
Di bawah terik matahari dan semangat yang tak padam, para pemuda, warga, hingga para tokoh turun langsung ke jalan. Mereka mencampur semen, mengangkat material, dan meratakan permukaan jalan sepanjang lebih dari 500 meter. Gotong royong ini menjadi simbol perlawanan terhadap kondisi yang selama ini terabaikan.
Hadir dalam aksi tersebut Pj Kepala Desa Pagelaran Riska, Plt Camat Malingping Iman Teguh Budiana, anggota DPRD Provinsi Banten Musa Weliansyah, serta Ketua MUI KH. Idin Rosidin. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan nyata di tengah jeritan kebutuhan masyarakat.
Jalan yang dulunya dipenuhi lubang, aspal terkelupas, dan genangan air yang mengintai bahaya, kini perlahan berubah menjadi harapan baru. Warga tak lagi ingin menunggu—mereka memilih bergerak.
Eroy, salah satu pemuda yang terlibat, menyampaikan dengan penuh semangat bahwa aksi ini bukan sekadar kerja bakti biasa.
“Kami tidak bisa terus menunggu. Ini kebutuhan kami bersama. Maka kami bergerak, bersama pemerintah desa dan semua pihak,” ujarnya tegas.
Pj Kepala Desa Pagelaran, Riska, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya melihat kekompakan warganya. Ia menegaskan bahwa perjuangan ini tidak berhenti di sini.
“Kami akan terus mengawal agar pembangunan jalan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah kabupaten hingga provinsi,” katanya.
Senada, Plt Camat Malingping, Iman Teguh Budiana, mengakui bahwa kondisi ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah.
“Ini bukan sekadar gotong royong, ini pesan kuat. Ke depan, jalur ini harus menjadi prioritas pembangunan,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua MUI KH. Idin Rosidin berharap langkah ini membawa keberkahan dan solusi jangka panjang. Jalan yang layak, menurutnya, bukan hanya soal akses, tetapi juga tentang masa depan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah keterbatasan, warga Lebak telah menunjukkan satu hal: ketika harapan tak kunjung datang, kebersamaan bisa menjadi jalan keluar.(man/red)


0 Komentar