Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2026
Oleh: Kefas Hervin Devananda alias Romo Kefas
Jurnalis PEWARNA Indonesia | Penggiat Budaya | Aktivis 98
Jakarta, TARGET RILIS.COM — Di tengah derasnya arus globalisasi, revolusi digital, dan kecerdasan buatan yang mengubah wajah dunia, Indonesia menghadapi satu tantangan besar yang jauh lebih mendasar dari sekadar pembangunan ekonomi: menjaga manusia Indonesia agar tidak kehilangan jati dirinya.
Hari Kebangkitan Nasional 2026 seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan untuk mengenang sejarah lahirnya kesadaran kebangsaan. Momentum ini perlu dimaknai lebih dalam sebagai panggilan untuk kembali meneguhkan fondasi utama bangsa, yakni pendidikan, budaya, dan karakter manusia Indonesia.
Sebab sejarah membuktikan, sebuah negara mungkin dapat berdiri dengan kekuatan militer dan kekuasaan politik, tetapi sebuah peradaban hanya dapat bertahan melalui pendidikan dan kebudayaan.
Indonesia membutuhkan tentara untuk menjaga kedaulatan wilayahnya. Namun bangsa ini juga membutuhkan guru, pendidik, ulama, rohaniawan, seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat yang menjaga akal sehat serta nurani bangsa.
Senjata menjaga batas negara.
Tetapi pendidikan menjaga masa depan bangsa.
Kebangkitan nasional yang lahir pada awal abad ke-20 sesungguhnya berakar dari kesadaran pendidikan. Dari ruang-ruang belajar sederhana, lahirlah generasi yang mulai memahami martabat bangsanya dan berani memperjuangkan kemerdekaan.
Karena itu, guru bukan hanya profesi administratif di ruang kelas. Guru adalah penjaga peradaban.
Di pelosok negeri, di sekolah sederhana yang jauh dari perhatian, di pesantren kampung, rumah ibadah, hingga sanggar budaya, para guru terus bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka mengajar bukan demi popularitas atau kemewahan, melainkan karena keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan untuk memerdekakan manusia dari kebodohan dan keterbelakangan.
Banyak guru yang tetap mengabdi meski fasilitas terbatas. Ada yang berjalan jauh demi menjangkau murid di pedalaman. Ada pula yang bertahan dengan honor minim, tetapi tetap setia menjaga harapan generasi muda Indonesia.
Merekalah penjaga masa depan bangsa yang sesungguhnya.
Dalam budaya Nusantara, guru selalu menempati posisi terhormat. Falsafah Jawa mengenal ungkapan “guru digugu lan ditiru” — guru dipercaya dan diteladani. Budaya Sunda mengajarkan silih asah, silih asih, silih asuh, yaitu saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling membimbing. Di tanah Bugis hidup nilai sipakatau yang menekankan penghormatan terhadap sesama manusia. Sementara masyarakat Batak mengenal semangat marsiadapari, budaya gotong royong dalam membangun kehidupan bersama.
Nilai-nilai itu menegaskan bahwa pendidikan Indonesia sejak dahulu bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, melainkan pembentukan manusia yang beretika, berbudaya, dan beradab.
Namun tantangan zaman hari ini semakin kompleks. Indonesia menghadapi krisis moral, lunturnya sopan santun, budaya instan, penyalahgunaan teknologi, hingga generasi yang cerdas secara digital tetapi miskin empati sosial.
Anak-anak muda semakin akrab dengan dunia global melalui layar gawai, tetapi perlahan mulai jauh dari akar budaya dan identitas bangsanya sendiri.
Inilah ancaman paling serius bagi bangsa modern: kehilangan jati diri.
Karena itu, kebangkitan nasional di era sekarang tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Indonesia juga harus bangkit dalam kualitas manusianya — dalam karakter, budaya, dan kemanusiaan.
Sebab negara dapat maju secara ekonomi, tetapi runtuh secara moral.
Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga memiliki hati nurani. Generasi yang mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan akhlak. Generasi modern yang tetap menghormati budaya, kemanusiaan, dan nilai-nilai kebangsaan.
Dan semua itu lahir melalui pendidikan.
Hari Kebangkitan Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum nasional untuk kembali menghormati para guru Indonesia — para penjaga ilmu, penjaga budaya, dan penjaga masa depan bangsa.
Karena kebangkitan Indonesia sejatinya tidak dimulai dari gedung-gedung kekuasaan atau panggung politik semata. Kebangkitan itu lahir dari ruang kelas sederhana, dari buku yang dibaca anak-anak, dari doa para ibu, dari keteladanan guru, dan dari budaya yang diwariskan kepada generasi penerus.
Bangsa besar bukan hanya bangsa yang mampu menjaga wilayahnya, tetapi bangsa yang mampu menjaga manusianya.
Jika pendidikan runtuh, bangsa kehilangan masa depan.
Jika budaya hilang, bangsa kehilangan jiwanya.
Dan jika guru tidak lagi dihormati, maka perlahan bangsa sedang kehilangan arah peradabannya.
Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar orang-orang pintar.
Indonesia membutuhkan manusia-manusia bijaksana.
Dan di tangan para guru, kebijaksanaan itu terus dijaga demi masa depan Indonesia.


0 Komentar