Ticker

6/recent/ticker-posts

Kerajaan yang Hilang Kembali Menyapa: Duka dan Rindu Warga Saat Kampung Somang Bangkit dari Dasar Waduk Karian


LEBAK, BANTEN, TARGETRILIS.COM  — Ada yang sunyi saat angin kemarau bertiup menghempas permukaan dasar Bendungan Karian, Kabupaten Lebak. Dari balik surutnya air waduk yang perlahan mengering, takdir seolah menarik kembali tirai waktu. Di bawah terik matahari Kamis (30/7/2026), sebuah dunia yang lama mati kembali bernapas: Kampung Somang mendadak bangkit dari kubur alirnya.

Sebuah pemandangan yang menyayat hati sekaligus memukau. Puing-puing pondasi rumah yang retak, sisa-sisa dinding masjid yang tak lagi utuh, hingga ruas-ruas jalan desa yang pernah riuh oleh tawa anak-anak, kini berdiri kaku bertelanjang dada di atas tanah lumpur yang merekah. Bahkan garis-garis petak sawah—tempat para petani menumpahkan keringat demi menyambung hidup—terpapar jelas di dasar waduk yang mengering.

Bagi mata asing, ini mungkin sekadar fenomena alam biasa akibat kemarau panjang. Namun bagi mereka yang pernah mengukir hidup di sana, fenomena ini adalah panggilan dari masa lalu.

Ketika Air Menyerahkan Kenangan

Puluhan warga berbondong-bondong berdiri di tepian tebing waduk. Mata mereka menatap tajam ke bawah, menerobos debu dan sisa lumpur. Beberapa di antaranya tak mampu menahan haru; air mata menetes perlahan, jatuh ke tanah yang kini tak lagi menjadi milik mereka.

"Di sanalah dapur tempat ibu saya memasak. Dan di sana, bekas tiang masjid tempat kami mengaji waktu kecil "bisik seorang penyintas relokasi dengan suara bergetar, tangannya menunjuk ke arah gundukan batu yang tertutup kerak air.


Kampung Somang bukan sekadar nama di atas peta yang terhapus demi Proyek Strategis Nasional. Ia adalah rahim bagi kenangan, tempat silsilah keluarga ditanam, dan tanah di mana leluhur mereka pernah dibaringkan. Pembangunan Bendungan Karian demi memasok jutaan liter air bagi raksasa industri dan pemukiman Banten hingga Jakarta, menuntut pengorbanan yang tak ternilai: mereka harus menenggelamkan kenangan.

Momen Bisu Pengorbanan Rakyaat

Kini, saat waduk raksasa itu tak mampu menahan derita kemarau, rahasia di dasarnya terkuak. Kampung Somang seolah enggan benar-benar dilupakan. Ia kembali menampakkan wujudnya ke permukaan, menuntut tempat di dalam ingatan zaman.

Kemunculan kembali Kampung Somang adalah pengingat yang menyentak: bahwa di balik megahnya bendungan pengendali banjir dan penopang ekonomi negara, ada air mata, tanah kelahiran yang direlakan, dan sejarah masyarakat kecil yang ditenggelamkan demi hajat hidup orang banyak.

Saat air kelak kembali pasang dan menelan kembali peradaban yang hilang itu, warga tahu satu hal: Kampung Somang boleh tenggelam di dasar waduk, tapi ia tak akan pernah karam dalam ingatan.