Lebak Banten, TARGETRILIS.COM – Di balik dinding rumah bilik yang sederhana, tersimpan kisah perjuangan dan harapan seorang warga pelosok Kabupaten Lebak. Ibu Unel, warga Kampung Cibengan, Desa Citorek Barat, Kecamatan Citorek, tak kuasa menahan haru ketika rumahnya masuk dalam daftar penerima bantuan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0603/Lebak.
Dengan mata berkaca-kaca dan tangan menengadah ke langit, Ibu Unel mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang akan mengubah kondisi rumah biliknya menjadi lebih layak. Bagi dirinya, bantuan tersebut bukan sekadar perbaikan bangunan, melainkan secercah harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Terima kasih Bapak Dandim dan Bapak Bupati, Bapak Lurah,” ucap Ibu Unel lirih saat ditemui di depan rumahnya yang akan direhabilitasi, Selasa (13/10/2026).
Ungkapan singkat itu menyiratkan betapa besar arti perhatian bagi masyarakat kecil yang tinggal jauh dari pusat perkotaan. Ketika sebagian masyarakat telah menikmati hunian yang layak, masih ada warga di pelosok Lebak yang berharap rumah sederhananya dapat berdiri lebih kokoh dan memberikan rasa aman bagi keluarga.
Kini, melalui program TMMD, harapan itu mulai menemukan jalannya.
RATUSAN RUMAH MASIH MEMPRIHATINKAN, LIMA UNIT RTLH JADI HARAPAN AWAL
Kepala Desa Citorek Barat, Haji Karjaya, mengungkapkan bahwa persoalan rumah tidak layak huni masih menjadi pekerjaan besar di wilayahnya. Bantuan lima unit RTLH yang diterima desanya dinilai sangat berarti, meskipun kebutuhan masyarakat masih jauh lebih besar.
“Untuk ratusanlah yang masih tidak layak huni. Kebetulan ini kita di Citorek Barat dapat lima, ini juga sangat menopang. Mudah-mudahan ke depannya bisa bertambah terus karena memang sangat membutuhkan,” ujar Haji Karjaya.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa di balik program pembangunan yang berjalan, masih terdapat pekerjaan rumah besar yang membutuhkan perhatian berkelanjutan dari pemerintah dan berbagai pihak.
Bagi warga yang rumahnya belum layak huni, bantuan bukan sekadar angka dalam program pembangunan. Bantuan itu menyangkut kenyamanan, keselamatan, dan harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih manusiawi.
WILAYAH SELUAS 5.430 HEKTARE, PETANI MASIH BERHADAPAN DENGAN KETERBATASAN IRIGASI
Haji Karjaya menjelaskan, Desa Citorek Barat memiliki luas wilayah sekitar 5.430 hektare. Selain persoalan hunian, masyarakat juga menghadapi tantangan di sektor pertanian, terutama minimnya saluran irigasi untuk sawah tadah hujan yang dikenal warga sebagai Sawah Terelek.
Keterbatasan infrastruktur tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi pertanian dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Karena itu, kehadiran TMMD diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menjadi pemantik bagi percepatan pembangunan desa, peningkatan kualitas hidup masyarakat, serta penguatan ekonomi warga di wilayah terpencil.
SATU HEKTARE LAHAN DISIAPKAN, KETAHANAN PANGAN IKUT DIGERAKKAN
Dukungan terhadap program TMMD juga diwujudkan melalui persiapan lahan seluas satu hektare di kawasan Kasepuhan Cibedug untuk kegiatan tanam padi bersama sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
Langkah ini diharapkan dapat mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa.
“Alhamdulillah dengan adanya program TMMD ini sangat mendukung luar biasa terhadap masyarakat saya, terutama di daerah terpencil. Saya berterima kasih sekali kepada Pak Danrem, Pak Dandim dan juga Pak Bupati,” pungkas Haji Karjaya.
TMMD BUKAN SEKADAR MEMBANGUN JALAN, TETAPI MENUMBUHKAN HARAPAN
Program TMMD ke-130 Kodim 0603/Lebak yang dipusatkan di wilayah Citorek Tengah dan Citorek Barat menjadi salah satu upaya mendorong pembangunan hingga menjangkau masyarakat di pelosok.
Pembangunan infrastruktur, rehabilitasi rumah warga, serta dukungan terhadap ketahanan pangan memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat.
Namun, kisah Ibu Unel menyampaikan pesan yang lebih dalam: keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari panjang jalan yang dibangun atau jumlah bangunan yang diperbaiki, tetapi juga dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Di rumah bilik sederhana itu, air mata haru menjadi saksi sebuah harapan yang kembali tumbuh. Bagi Ibu Unel, perhatian yang datang melalui TMMD menjadi alasan untuk kembali menatap hari esok dengan optimisme.
Kini, masyarakat berharap program serupa terus berlanjut agar lebih banyak keluarga yang masih tinggal di rumah tidak layak huni memperoleh kesempatan yang sama.
Sebab, bagi warga di pelosok Lebak, sebuah rumah yang layak bukanlah kemewahan. Itu adalah kebutuhan dasar, tempat keluarga berlindung, dan harapan untuk hidup lebih bermartabat.(red)
